Sunday, April 10, 2011

Contoh Naskah Drama

NARRATOR:
Ini adalah legenda rakyat yang diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut tentang kisah cinta abadi antara sepasang manusia. Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hamper seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.

(Narrator berhenti sejenak)

Mohon maaf, saya salah membaca naskah.
Inilah naskah yang sebenarnya. Di sebuah tanah asing, seorang putri terdampar setelah diusir dari kerajaannya. Ia ditolong oleh seorang laki-laki dan dirawat di rumahnya. Beberapa hari kemudian, putri itu akhirnya tersadar dari pingsannya. Lumilumut membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring. Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih.

(Pintu kamar terbuka, Karim A masuk dengan tongkat di tangannya membawa semangkok obat. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana Lumilumut berbaring. Tongkat kayunya meliuk- liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada Lumilumut)

Karim A : Ih.. apa ini... lombo-lombo...(menusuk-nusuk dada Lumilumut
dengan perlahan dan penasaran)
Lumilumut : Woi ta pe dada itu tau! (bangun dan duduk di kasur)
Karim A : (Terkejut dan mundur beberapa langkah) Oh, kamu sudah sadar.
Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar.
Lumilumut : Dimana ini?
Karim A : (Duduk di samping Lumilumut) Ini kita pe rumah. (menyodorkan
mangkok berisi obat kepada Lumilumut) Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh
Lumilumut menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.
(GAYA DRAMA MURAHAN ON)
Karim A : Siapakah namamu wahai wanita?
Lumilumut : Namaku Lumilumut. Aku biasa dipanggil Lumut.
(GAYA DRAMA MURAHAN OFF)
Karim A : Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil...
(berdiri, menari berkeliling gaya opera) Karim A
Lumilumut : Anda seorang tabib?
Karim A : (Kembali duduk di kasur sambil mengelus-elus jenggotnya.)
(Gaya berpuisi sedih penuh perasaan) Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . . Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati.
Lumilumut : (Menyemburkan obat di mulutnya) Pfffffffffffff!!!
Mangkok di tangan Lumilumut terlepas. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.
Karim A :(Gaya pidato) Jangan khawatir! Sebab bukan saya yang meramu
obat itu. Saya membelinya di apotik dekat Terminal.
Lumilumut : Oooh, maaf, saya kira kamu yang buwat....
Karim A : (Masih gaya pidato) Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang
saya beli Setengah harga.




Lumilumut : Hoeeekkk!! (Memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam
kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan)
Karim A : (Berpose narsis) Saya memang tabib yang hebat. HUAHAHAHAHAHA...!!!
Lumilumut : Eh, kalu boleh tau, Apa anda yang bawa saya kamari?
Karim A : Bukan! Bukan saya
Lumilumut :Lalu, siapakah gerangan orang tersebut yang telah menolong saya?
Di depan pintu muncul Trotoar.
Trotoar :(Menunjuk dadanya)Itu aku!
Lumilumut : (histeris) Aaahh.. Suleeee...
Trotoar :Bukan! Aku bukan Sule!
Lumilumut :Lalu, siapa anda?
Trotoar :(Pose) I ’m Batman! Bukan! Aku adalah... (menari berkeliling gaya opera)
Karim B!!!
Karim A : Jangan masak nama saya sudah karim A kamu karim B, cari nama yang lain.
Trotoar : Baiklah! Aku adalah...(menari berkeliling gaya opera)Agneeeees!!!
Karim A :Wah jadi rusak crita ini kalau ada agnes di sejarah minahasa
Trotoar :Baiklah! Sebenarnya aku adalah...(menari berkeliling gaya opera)Tro...Tooooar!
Karim A : Perkenalkan, ini Trotoar. Dialah yang menyelamatkanmu dan membawamu
ke sini.
Lumilumut : Oh, terima kasih. Aku tak dapat membalas kebaikanmu.
Trotoar : Kamu tak perlu bertrima kasih, waktu aku gantikan baju kamu aku sudah
lihat smua, anggapsaja impas
Lumulumut : Ih.. macico!
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
Seorang perwira Kerajaan Utara
bernama Opo masuk.
Opo : Hahahahaha...
Trotoar : Sapa kamu? mau apa kamu kesini..?
Opo : Aku adalah...(menari berkeliling gaya opera) Ooooo... pooooo...!!!
Dan aku adalah panglima dari Kerajaan Utara. Kami mencari seorang gadis
bernama Lumilumut. Kami tahu dia berada di sini.
Trotoar : Tidak ada nama Lumilumut di sini!
Lumilumut : Saya Lumilumut. Kamu ada perlu apa??
Karim A : Iiiiihh... kamu sembunyi saja.
Ratu : Anaku kemarilah kamu..
Opo : Anak buah!! Seret wanita itu kemari
Trotoar : (Menghadang) Tunggu!Dia bukan Lumilumut! Namanya adalah Wawu!
Opo : Kamu kira saya bodoh, aku tau wawu itu penjual ikan di pantai.
Lumut! Kau harus ikut untuk menjadi istriku!
Ratu : Ia anakku, kamu akan aku nikahkan dengan Opo, ayo mari kita pulang..
Opo : Minggir! Atau kau akan menjadi mayat!
Trotoar : Baiklah! Kalau begitu kau harus melangkahi mayatku!
Opo : Rupanya kau punya nyali juga anak muda. Sebutkan account Facebookmu biar
aku tahu siapa yang kubunuh!
Trotoar : Cih, aku tak sudi menerima permintaan pertemanan dengan orang seperti kau!
Opo : Rupanya kau memang sudah bosan hidup! Bersiaplah menerima kematianmu!
(bersiap bertempur)
Trotoar : Tunggu!
Opo : Ada apa?
Trotoar : Update status dulu di FB hehehe.(mengambil HP dan update status)
Sedang bertarung dengan @Opo, panglima Kerajaan Utara.Oke, Bagikan!
Opo : Sekarang terimalah kematianmu! (bersiap menyerang)
Karim A : Tunggu! (memanggil Trotoar dan Opo mendekat. Menjelaskan dengan gaya
wasit tinju)Dilarang memukul wajah, dilarang memukul di bawah perut, belakang kepala, kemaluan dan punggung. Paham?Okay, Fight! (Trotoar dan Opo memasang kuda- kuda tempur)
Trotoar : Karim, cepat bawa Lumut pergi dari sini.
Karim A : Ayo kita pergi.( Karim segera membawa Lumulumut pergi).
Opo : Sekarang tinggal kita berdua.Menyerahlah.
Trotoar : Tidak akan pernah!



Opo : Kalau begitu matilah! Hiaaat... (Opo menyerang Trotoar)
Trotoar : Tunggu!
Opo : Ih, bagimana kamu ini dari tadi tunggu- tunggu trus!
Trotoar : Kita kan pemeran utama, nda mungkin mau main adegan berbahaya.
(berteriak memanggil pemeran pengganti) Pemeran pengantiiiii...
Opo : Ah, so suci komang ini. Masa pake pemeran pengganti?
Sudah! Ayo selesaikan pertarunganini!
(Adegan laga)
(Setelah pertarungan sengit, Opo berhasil menjatuhkan Trotoar)
Opo : Sekarang pergilah ke neraka!(bersiap membunuh trotoar)
Trotoar : Tunggu! Sabar... Bagini, kita kan pemeran utama nicirita.
Kalu kita mati berarti tamat dah ni cirita.
Opo : Iya, trus bagimana?
Trotoar : Yaaaa, berarti diantara kita musti kamu yg mati.
Opo : Ha? Memang musti bagitu ya?
Trotoar :Yah, memang bagitu di naskah, mau bagimana lagii.
Opo :(pasrah) cepat bunuhlah aku.(Trotoar berdiri lalu membunuh Opo. Opo terkapar
meregang nyawa)
Trotoar : Wahai panglima Kerajaan Utara. Kau memang hebat, tapi sayang,
kemampuanmu tak dapat menandingi golok saktiku!
Hahaha... akulah Trotoar, pendekar terhebat di tanah ini!
(Lumilumut dan Karim A masuk)
Lumilumut : Trotoar... untunglah kau selamat.
Trotoar : Lumut...!!! sekarang tidak ada lagi yang akan mengganggumu
(Trotoar berlari ke sudut panggung,Lumilumut ke sudut panggung yang
satunya lagi)
(GAYA DRAMA MURAHAN ON)
Lumilumut : Oh... Trotoar...
Trotoar : Oh... Lumut... (Dialog diulang-ulang selama Trotoar dan Lumilumut saling
mendekat)
Trotoar : Oh Lumut... ada yang ingin aku katakan padamu...
Lumilumut : Katakanlah wahai Trotoar pahlawanku... katakanlah...
Trotoar : Sebenarnya... aku...
Lumilumut : Katakanlah... Katakan... jangan ragu...
Trotoar : Sebenarnya... aku... mencintai....
Lumilumut : Oh... aku juga mencintaimu (bergerak memeluk Trotoar)
Trotoar : (menghindar dari pelukan Lumilumut) Sebenarnya aku mencintaimu Karim!
(Trotoar dan Karim A saling berpegangan tangan dengan mesra.)
Lumilumut : (menangis, kemudian mendekati mayat Opo, mengambil pedangnya)
(bersuara lirih) Kalu memang nda ada yg cinta sama saya lebih baik saya mati!
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan) (senyap)
Lumilumut : (bersuara lebih keras) Kalu memang nda ada yg cinta aku, lebih baik aku mati!
(Trotoar dan Karim A tidak mempedulikan) (senyap)
Lumilumut : (Berteriak keras)woi.., saya mau bunuh diri!
(Trotoar kaget dan bergegas mencegah Lumilumut bunuh diri, namun terlambat,
Lumilumut terlanjur mati duluan)
Karim A : Mati dia?
Trotoar : Io mati
Karim : Yah kamu rusak ciritanya.
Trotoar : Adoh, sekarang bagimana ini?

NARRATOR : Demikianlah akhir dari cerita ini.Trotoar hidup berdua dengan Karim sampai
saatnya Toar dan Lumimuut datang ke tanah ini dan membangun peradaban Minahasa.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

c